DEWASA ini, tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh
orangtua dalam mendidik putra-putrinya terasa berat. Beban ujian dan godaan
datang bertubi-tubi dari segala penjuru. Jika tidak pandai mendidik anak, bisa
saja mereka masuk dalam generasi gagal. Anak kita tidak dilahirkan selaras
dengan zaman kita.
Belajar dari
seorang Wali Allah, Luqman, kita bisa belajar tentang mendidik anak. Beliau
membekali anaknya dengan iman, tauhid dan akidah yang kokoh. Luqman mengajarkan
putranya agar menjadi insan beriman, memiliki kekokohan akidah, tidak
menyekutukan Allah Subhanahu Wata’aladengan apapun juga.
Luqman
mengenalkan kepada putranya siapa yang telah menciptakannya, menghidupkan,
mematikan, dan memberi rezeki. Iman merupakan sumber inspirasi, pembuka
wawasan, dan ide-ide cemerlang. Sebagai inspirasi, iman dapat membuat seseorang
tergerak melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Dengan inspirasi iman,
seseorang akan memilki motivasi dalam memenuhi seruan-seruan kebajikan.
Sejarah
mengukir kisah orang-orang yang terdidik dengan pendekatan iman.
Dengan iman,
Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan semua hartanya di jalan Allah. Dengan iman
pula, Umar bin Khattab sebagai Kepala Negara siap sedia membawa gandum di
pundaknya, ia serahkan kepada seorang wanita yang papa. Dengan inspirasi iman,
Ali bin Abi Thalib rela tidur di pembaringan Sang Nabi di waktu rumahnya dikepung
musuh.
Dengan
inspirasi iman, seseorang akan mampu bangun di waktu malam, bermunajah kepada
Allah, di musim dingin sekalipun. Dengan kekuatan iman juga, Sumayyah tetap
berkomitmen menjaga tauhidnya meski harus merelakan nyawa satu-satunya. Semuanya
karena iman kepada Allah.
Dengan iman
yang kuat, seseorang akan berusaha menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.
Akhlak
sangat penting dihadirkan dalam segala situasi dan kondisi. Kemuliaan akhlak
ada pada dorongan iman yang kuat. Kekuatan iman membuat seorang anak selalu
beretika dalam tiap tindak tanduknya, menghindari perilaku-perilaku tercela.
Dengan iman yang mantap, seorang anak yang didik dengan metode ini, akan
memilki rasa malu. Malu dalam melakukan kejahatan.
Rasa malu
nyaris lenyap dalam kehidupan kita. Ada seorang anak tidak malu-malu membuat
malu keluarga dengan perbuatan nistanya. Tanpa rasa malu ia berbuat keji. Tanpa
iman, seseorang akan ringan-ringan saja melangkahkan kaki dalam perbuatan yang
dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala.
Rasulullah
Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam memprioritaskan pendidikan iman
dalam dakwahnya. Beliau mengajarkan cara beriman dan bertauhid kepada
para sahabatnya yang kemudian ditularkan kepada anak-anak mereka. Sebagai salah
satu contoh kesuksesan orang tua memberi asupan iman dan akidah yang kokoh
kepada anaknya adalah Ali bin Abi Thalib.
Akkisah, dalam suatu kesempatan, Zainab duduk bersama ayahnya di dalam kamar.
Sambil membelai-belai putrinya, sang ayah, Imam Ali, bertanya, “Dapatkah engkau mengucapkan kata ‘satu’ ?”
“Dapat…”, jawab Zainab dengan gaya kekanak-kanakan.
“Cobalah,” lanjut Imam Ali.
“Sa-tu.”
“Coba ucapkan lagi dua…”
Zainab diam, tidak menjawab.
“Cobalah, ucapkan sayang…!”, ayahnya mengulang pertanyaannya.
“Ayah,” kata Zainab, “aku tidak sanggup mengucapkan ‘dua’ dengan lidah yang sudah terbiasa mengucapkan “satu.”
Akkisah, dalam suatu kesempatan, Zainab duduk bersama ayahnya di dalam kamar.
Sambil membelai-belai putrinya, sang ayah, Imam Ali, bertanya, “Dapatkah engkau mengucapkan kata ‘satu’ ?”
“Dapat…”, jawab Zainab dengan gaya kekanak-kanakan.
“Cobalah,” lanjut Imam Ali.
“Sa-tu.”
“Coba ucapkan lagi dua…”
Zainab diam, tidak menjawab.
“Cobalah, ucapkan sayang…!”, ayahnya mengulang pertanyaannya.
“Ayah,” kata Zainab, “aku tidak sanggup mengucapkan ‘dua’ dengan lidah yang sudah terbiasa mengucapkan “satu.”
Dalam
kesempatan yang lain, pada suatu hari Zainab bertanya kepada ayahnya, “Ayah,
benarkah ayah mencintai diriku?”
“Bagaimana
tidak, bukankah engkau kesayanganku?”
Mendengar
jawaban ayahnya seperti itu Zainab menyahut, “Seharusnya cinta itu ditujukan
kepada Allah, sedangkan diriku cukuplah kasih sayang.”
Lihatlah
bagaimana seorang anak di bawah umur sudah memahami iman kepada Allah Subhanahu
Wata’aladengan begitu dalam. Bandingkan dengan kenyataan yang dialami anak-anak
kita hari ini. Mungkin anak-anak kita memiliki kecerdasan intelektual namun
nihil kecerdasan spiritual. Pendidikan yang bersendikan iman dan tauhid kepada
Allah, akan menjadikan anak-anak tahu mana yang baik dan buruk, mana yang
diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan dimurkai-Nya, dan berusaha untuk
melakukan tindakan-tindakan yang baik, di mana pun ia berada, ke mana pun ia
melangkahkan kakinya.
Pada
detik-detik kemangkatannya Nabi Ya`qub A`laihis Salaam tidak bertanya tentang
materi yang akan diperoleh oleh anak-anaknya. Beliau menanyakan iman.
Allah
Subhanahu Wata’ala merekam dengan sangat indah momen dialog Nabi Ya`qub dengan
anak-anaknya.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS: Al-Baqarah : 133).
Nabi Ya`qub tidak bertanya soal apa yang akan dimakan sepeninggalnya, beliau bertanya tentang iman. Iman tidak bisa diwariskan kepada anak-anak kita. Kita dapat mengajarkan iman kepada anak-anak itu sejak dini, sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di dunia yang belakangan begitu menyedihkan.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS: Al-Baqarah : 133).
Nabi Ya`qub tidak bertanya soal apa yang akan dimakan sepeninggalnya, beliau bertanya tentang iman. Iman tidak bisa diwariskan kepada anak-anak kita. Kita dapat mengajarkan iman kepada anak-anak itu sejak dini, sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di dunia yang belakangan begitu menyedihkan.
Pertanyaan
demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya “Positive
Parenting” (Cara-cara
Islami Mengembangkan Karakter Positif Pada Anak Anda) berikut ini, patut
menjadi renungan bagi kita semua.
“Seberapa
gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar mereka
kelak tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali
jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang menyala-nyala, budaya
belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah?”
Penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid,
Malang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar